Jumat, 11 Agustus 2017

Profil Desa Nyabakan Barat

Profil Desa Nyabakan Barat


Nama desa nyambakan barat berasal dari bahasa Madura yaitu berasal dari kata NYABHAK dan NGAKAN, pada asal mulanya orang-orang nyabakan barat banyak yang merantau keluar daerah dia langsung bermukim atau berdomisili dan dia kebanyakan sukses diluar daerah, dengan kata lain sekali. Orang nyabakan barat tinggal disuatu tempat yang dikenal dengan bahasa Madura NYABHAK maka dia langsung banyak orang yang senang sehingga untuk menari makan sangat mudah istilah maduranya NGAKAN maka diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi NYABAKAN yang sampai saat ini dikenal dengan nama NYABAKAN BARAT.
Itulah selumit sejarah desa Nyabakan barat yang pada dulunya penduduknya tidak begitu padat dengan perubahan zaman maka penduduk desa Nyambakan barat lebih padat penduduknya ketimbang desa-desa lain di rayon utara di kecamatan batang batang.
SEJARAH PEMERINTAH DESA
            Berdasarkan cerita dari orang-orang tua di desa nyabakan barat bahwa semenjak tahun 1900 an sampai dengan sekarang 2017 pemerintah desa nyabakan barat sudah mengalami 10 kali pergantian pimpinan /kepala desa yaitu :
1.      Bapak mura, menjabat kepala desa nyabakan barat pada tahun 1900-1920.
2.      Bapak juina, menjabat kepala desa nyabakan barat pada tahun 1920-1927,
3.      Bapak sudakin (singo pandhem) menjabat kepala desa nyabakan barat pada tahun 1927-1935.
4.      Bapak sukompol (singo joyo), menjabat kepala desa nyabakan barat pada tahun 1935-1942.
5.      Bapak naba (mangon kusumo), menjabat kepala desa nyabakan barat pada tahun 1942-1954.
6.      Bapak supang (singo yudo), menjabat kepala desa nyabakan barat pada tahun 1954-1961.
7.      H. abd. Halim siddiq (joyo kusumo), menjabat kepala desa nyabakan barat pada tahun 1961-1987.
8.      Bapak kipna, pejabat sementara (PJS) pada tahun 1988-1990.
9.      Bapak lakso (aryo wijoyo singo laksono), menjabat kepala desa nyabakan barat pada tahun 2007 sapai sekarang.

Kamis, 10 Agustus 2017

Makanan Tradisional Masyarakat

Makanan merupakan produk pangan yang siap hidang atau yang langsung dapat dimakan. Makanan biasanya dihasilkan dari bahan pangan setelah terlebih dahulu diolah atau dimasak (Soekarto 1990). Sedangkan, makanan tradisional merupakan makanan (termasuk jajanan) dan minuman serta bahan-bahan campuran (ingredient) yang secara tradisional telah digunakan dan berkembang di daerah atau masyarakat Indonesia.
            Dalam pembuatan makanan tradisional peranan budaya sangat penting, yaitu berupa keterampilan, kreativitas sentuhan seni, tradisi dan selera. Semakin tinggi budaya manusia, maka semakin luas variasi betuk makanandan semakin kompleks cara pembuatannya serta makin rumit cara penyajiannya. Makanan tradisional secara umum terdiri dari makanan pokok, lauk pauk, termasuk sayuran yang selalu dimakan mendampingi makanan poko dan makanan selingan atau kedapan, di samping buah-buahan.
            Kabupaten Sumenep, khususnya Kecamatan Batang-batang mempunyai keragaman makanan tradisional. Baik makanan utama maupun makanan ringan atau snack. Bahan-bahannya juga beragaman esuai dengan sumber daya alam yang tedapat pada daerah tersebut. Salah satu makanan tradisional yang terdapat di Batang-batang tepatnya Desa Nyabakan Barat yaitu lempok dan pokak. Lempok terbuat dari bahan dasar singkong. Sedangkan, pokak terbuat dari bahan dasar air siwalan.
Lempok
            Lempok merupakan salah satu makan khas Desa Nyabakan Barat yang terbuat dari singkong. Bahan yang digunakan yaitu singkong atau ketela, parutan kelapa atau nyiur (bahasa madura dari kelapa), kacang jalar dan garam. Cara pembuatannya :
1.      Memilih singkong yang besar (berdaging banyak)
2.      Mengupas dan mencuci singkong
3.      Mengukus singkong ±30 menit
4.      Menumpuk singkong sampai halus
5.      Memarut kelapa atau nyiur
6.      Menambahkan tumbukan singkong dengan parutan kelapa atau nyiur
7.      Lempok siap disajikan



Pokak
            Pokak merupakan salah satu minuman yang biasa dikonsumsi masyarakat Desa Nyabakan Barat. Biasanya dikonsumsi ketika sedang ada kerja bakti, tahlilan maupun sehari-hari. Minuman ini terbuat dari bahan dasar siwalan. Bahan yang digunakan yaitu air siwalan, gula merah dan es bila dibutuhkan. Cara pembuatannya yaitu:
1.      Merebus air siwalan sampai setengah matang
2.      Melarutkan gula merah dengan air panas
3.      Menuangkan larutan gula merah pada gelas kemudian ditambahkan dengan air siwalan yang telah direbus
4.      Minuman dapat disajikan (dapat diminum dalam keadaan hangat maupun dingin dengan ditambahkan es batu)

Makanan lempok dan minuman pokak hanya terdapat di daerah sekitar Batang-batang. Makanan hanya ditemukan di Desa Nyabakan Barat dan jarang ditemukan di pasar. Karena makanan tersebut hanya dibuat oleh masyarakat sediri sehingga pengenalan ke masyarakat luar jarang mengetahui dan hampir tidak mengetahui. Sehingga makanan tersebut dapat dikatakan sudah langkah. Hanya ditemukan di daerah tertentu. Seperti di Desa Nyabakan Barat dan sekitarnya.


Selasa, 08 Agustus 2017

Pengajian Rutin (Penghubung Tali Silaturrahmi Warga Desa Nyabakan Barat)



Pengajian menurut bahasa berasal dari kata kaji yang berarti membaca. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengajian berarti proses pengajaran agama Islam dan penanaman norma agama melalui dakwah. Pengajian merupakan kegiatan yang bertujuan untuk mendapat kemuliaan dari Allah SWT sekaligus mempererat tali silaturrahmi antar warga. Selain itu, tujuan dari pengajian itu sendiri adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada yang makruf dan menjauhi yang munkar.
                 Pada umumnya, pengajian merupakan pengajaran agama Islam dengan menanamkan norma – norma agama melalui media tertentu seperti ceramah dan tafsir Al – Quran. Pada setiap pengajian, terdapat materi yang disampaikan secara tersirat maupun tersurat. Materi – materi tersebut diklasifikasikan menjadi tiga kategori, yaitu :
1. Aqidah. Aqidah artinya ketetapan yang tidak ada keraguan pada orang yang mengambil keputusan. Secara garis besar, aqidah mencakup tentang masalah – masalah yang berhubungan dengan rukun iman.
2. Syariat. Syariat berhubugan erat dengan amal perbuatan dalam rangka mentaati semua peraturan – peraturan yang telah ditetapkan oleh Allah untuk mengatur hubungan manusia dengan penciptanya maupun hubungan antara manusia dengan manusia lainnya.
3. Akhlak. Akhlak merupakan tingkah laku yang menjadi pelengkap keimanan dan keislaman seseorang.
                 Desa Nyabakan Barat termasuk salah satu desa yang menjunjung tinggi nilai – nilai keagamaan. Hal tersebut dapat terlihat dari antusiasme warga yang cukup besar saat memperingati hari – hari kebesaran Islam dan besarnya minat para remaja desa untuk memperdalam ilmu agamanya dengan terus mengeyam pendidikan di Madrasah.

                 Selain itu, warga desa Nyabakan Barat juga masih rutin mengadakan pengajian, seperti pengajian antar dusun, pengajian muslimat, pengajian yasinan, dan pengajian yang dilaksanakan setiap hari jumat pukul 15:00 WIB. Pengajian tersebut diadakan di rumah – rumah warga secara bergantian, kecuali pengajian yang diadakan setiap hari jumat dilaksanakan di Masjid Baitul Haalim. Seperti yang dipaparkan oleh ibu Horriyatun, pengajian rutin hari jumat diikuti oleh kurang lebih 70 orang warga. Isi dari kegiatan pengajian diantaranya meliputi pembacaan tahlil, pembacaan surat Yaasin, dan pembacaan Sholawat Nariyah. Serta tambahan pembacaan kitab yang dipimpin langsung oleh Kiai Junaidi.

Kerja Bakti, Wujud Kehidupan Bertetangga yang Perlu Diberdayakan



Setiap hari jumat masyarakat Nyabakan Barat melaksanakan kerja bakti. Acara kerja bakti ini berlokasi di Balai Desa Nyabakan Barat. Kerja bakti dapat berupa membersihkan lingkungan, melancarkan aliran selokan dan merapikan tanaman. Hal ini sangat positif, lingkungan menjadi bersih, sehat dan terang. Masyarakat Nyabakan Barat sangat antusias dengan dilaksanakannya kerja bakti. Acara ini dilakukan oleh lingkungan tetangga tertentu, misalnya oleh aparatur desa, ketua Karang Taruna, ibu-ibu PKK dan beberapa warga desa Nyabakan Barat. Banyak kemuliaan yang diperoleh dari kehidupan bertetangga, termasuk melalui kerja bakti ini.
Di lingkungan perkotaan atau perumahan, kerja bakti bagi sebagian orang mungkin hal biasa. Ini yang membuat mereka tidak tertarik datang, atau berfikir kurang memberi manfaat. Itu sebabnya mereka itu berpikir mungkin ada hal lain yang lebih bermanfaat, misalnya mengisi waktu dengan membaca, olahraga, nonton TV, berlibur atau acara keluarga.
Berbeda dengan kerja bakti di lingkungan kampung atau desa. Ada motivasi lain untuk mengikuti kerja bakti. Motivasi itu karena murni ingin membantu lingkungan, atau untuk gotongroyong dan manfaat sosial. Sisi positif kerja bakti adalah sebagai berikut :
a.       Sillaturrahmi

Mungkin saja antar tetangga tidak tersedia waktu cukup untuk bertemu. Kesibukan kerja membuat silaturahmi tidak berjalan. Dengan kerja bakti, mereka jadi saling bertemu dan mengetahui kabar masing-masing. Mengobrol tentang sekolah anak, pekerjaan atau tentang rencana atau ide ke depan terkait lingkungan.

Justru mengobrol dan silaturahmi ini sering lebih ramai dan menghibur, sambil memberi semangat untuk bekerja bakti. Sering ada saja yang melontarkan candaan untuk membuat suasana segar. Hal ini menciptakan rasa saling mengenal, kebersamaan dan kegotongroyongan.
a.       Refreshing
Kesibukan kerja membuat kehidupan seseorang monoton mengurus kantor atau lingkungan kerja. Kerja bakti adalah suasana santai, tanpa target, tanpa tuntutan tertentu. Ini adalah kehidupan sosial yang lain, benar-benar untuk mewujudkan kehidupan bertetangga. Kerja bakti perlu diberikan prioritas, agar orang memiliki variasi lingkungan.

  
b.       Olahraga
Kerja bakti juga membuat badan berkeringat. Ada kombinasi gerakan fisik, berjalan, mengangkat, mengayun, naik, turun, atau menahan. Memang melelahkan, tetapi bagi saya ini sangat memuaskan untuk membakar kalori seperti olahraga. Pekerjaan ini selama dua hingga tiga jam bisa membakar kalori hingga 500 kalori. Setiap orang 


a.       Pemberdayaan Kerja Bakti
Kerja bakti adalah salah satu bentuk dari kehidupan bertentangga. Kepedulian seseorang dalam kerja bakti demikian terlihat jelas dalam uraian di atas. Ada kebersamaan, sillaturrahmi, berbagi, berkontribusi yang berorientasi sosial. Juga yang pasti adalah manfaat kebersihan lingkungan, selain manfaat yang diperoleh secara individual. Manfaat sosial lainnya adalah untuk meningkatkan kewaspadaan sosial bertetangga. Sillaturrahmi dalam kerja bakti dapat memonitor seseorang, misalnya sedang keluar kota, berhalangan, sakit. Dengan demikian warga dapat mengkondisikan, memberi bantuan atau pertolongan. Khususnya di lingkungan kota, dengan kehidupan modern yang makin individual, tidak jarang ada saja rumah tangga yang tidak mau berinteraksi. Dalam banyak hal tetangga yang tertutup ini memiliki masalah. Melalui sillaturrahim hasil kerja bakti, dapat mendeteksi hal-hal yang mencurigakan, kemiskinan, tindakan kriminal, atau gangguan sosial lainnya. Manfaat positif kerja bakti perlu diberdayakan. Kiranya hal ini dapat diagendakan secara terstruktur oleh aparatur desa. Yang lebih penting adalah inisiatif warga, karena mereka paling mengenal kondisi lingkungan dan antisipasi permasalahannya. Agenda dapat disesuaikan dengan budaya dan kehidupan setempat.


Karang Taruna Desa Nyabakan Barat : Media Aspirasi Kaula Muda



“Beri aku 1000 orang tua niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda niscaya akan kuguncang dunia”(soekarno)

Generasi muda nantinya akan menjadi tunas harapan dan modal pembangunan bangsa. Sudah semestinya generasi muda dikatakan sebagai aset yang penting bagi kehidupan dan keberlangsungan sebuah negara. Pemuda merupakan penentu keberhasilan sebuah negara kedepannya, karena peran pemuda yang sangat fundamental. United Nations Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO) mendefinisikan pemuda sebagai “a period of transition from the dependence of childhood to adulthood’s independence and awareness of our interdependence as members of a community”. Dalam hal ini UNESCO mengartikan pemuda adalah mereka yang sedang menjalani transisi dari masa kanak-kanak menuju periode ketika mereka dituntut untuk menjadi lebih mandiri dan independen. Pada periode tersebut, mereka juga diharapkan untuk memiliki kepekaan sebagai bagian dari masyarakat tempatnya beraktivitas. Salah satu wujud kepekaan yakni sebagai kontrol sosial dimana peran pemuda untuk mencegah serta mengajak dan mengarahkan masyarakat untuk bersikap sesuai norma serta diharapkan mampu meminimalisir penyimpangan sosial.
Salah satu organisasi masyarakat yang menampung aspirasi dan melibatkan generasi muda atau kaula muda yaitu Karan Taruna. Selain menjadi wadah untuk aspirasi Karang Taruna juga sebagai wadah penanaman rasa kebangsaan secara nasional, pengembangan potensi diri dan merupakan oraganisasi yang bergerak dalam bidang kesejahteraan sosial. Organisasi Karang Taruna ini sudah menyebar disetiap penjuru Indonesia tak terkecuali di desa Nyabakan Barat (Kawalod, 2015: 1-3).  Karang Taruna didesa Nyabakan Barat berdiri dan diresmikan pada tanggal 14 Oktober 2016 yang dihadiri oleh kepala desa, kepala kecamatan, serta wakil bupati. Ide awalnya berasal dari inisiatif beberapa pemuda yang muncul sejak tahun 2015, selain karena letak geografis didesa Nyabakan Barat yang cukup luas, hubungan pemuda antar kampung yang tidak saling mengenal jadi keinginan untuk menyatukan dan mengakrabkan para pemuda antar kampung didesa Nyabakan Barat, hal inilah yang menjadi salah satu alasan berdirinya Karang Taruna di desa Nyabakan Barat. Tujuan pertama berdirinya Karang Taruna ini setidaknya para pemuda di Nyabakan Barat saling mengenal dan menjalin silaturahmi, dari situlah berkembangnya ide-ide tentang kesejahteraan sosial. Saat ini didalam Karang Taruna terdapat beberapa bidang seperti bidang ekonomi kreatif, bidang olahraga serta bidang keagamaan. Sumber keuangan Karang Taruna sendiri berasal dari desa dan juga ada uang kas setiap minggunya.

Saat ini anggota Karang Taruna berjumlah 36 anggota dari semua dusun yang ada di Nyabakan Barat, yang mulanya pada awal berdiri hanya beranggotakan 16 anggota. Namun dengan inisiatif para anggota dengan cara setiap anggota membawa 5 kader untuk bergabung sehingga anggota bertambah mulai dari siswa SMA sampai yang sudah sarjana. Karena masih terbilang organisasi baru maka program kerja yang masih belum menetap jadi bersifat insidental. Saat ini program yang sudah terlaksana selama berdirinya Karang Taruna adalah maulid Nabi ke dusun-dusun dan juga membantu janda rentan yang kekurangan, namun untuk program kedepannya Karang Taruna menginginkan fokus pada kesejahteraan masyarakat dan juga bergerak dalam bidang usaha yang bisa memberikan pekerjaan bagi para pemuda yang tidak melanjutkan sekolah dan memberikan impact bagi masyarakat sekitarnya. 

Keadaan Sosial Masyarakat Desa Nyabakan Barat



Kebudayaan lahir dari kebiasaan yang dilakukan oleh nenek moyang kita sebelumnya. Bahkan ratusan tahun yang lalu kebiasaan tersebut sudah menjadi hal yang patut dan lumrah untuk terus dilestarikan. Sehingga tradisi terus berjalan dan melekat di dalam masyarakat yang memiliki kefanatikan terhadap adatnya. Jika tradisi tersebut tidak diindahkan oleh segelitir masyarakat yang hidup di dalamya, hal itu akan menjadi suatu hal yang salah dalam perilakunya. Kekentalan dan kefanatikan adatlah yang menjadi salah satu corak kehidupan masyarakat pedesaan. Dengan karasteristik mereka yang cenderung hidup berdampingan, yang memiliki perbedaan yang jauh dengan kehidupan masyarakat kota.
Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama, sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya, berpikir tentang dirinya dalam satu kesatuan sosial dengan batas-batas tersebut. Hal itu memiliki karasteristik kehidupan yang berbeda, bila diperhatikan dalam kehidupan kesehariannya. Salah satu karakteristik yang ada di Desa Nyabaan Barat ini merupakan masyarakat pedesaan yang cenderung hidup bersama-sama dalam keseharian mereka, hal ini dapat dikatakan bahwa mereka memiliki kehidupan sosial yang baik. Terbuka kepada para tetangga untuk saling bercengkrama layaknya saudara sendiri, bahkan tolong menolong menjadi sifat yang telah melekat didalam diri mereka.
Sebagai contoh kehidupan sosial yang akan penulis angkat pada artikel ini adalah mengenai sikap tolong menolong yang dilakukan oleh masyarakatnya. Seperti halnya ketika salah satu keluarga yang ada pada bagian masyarakat desa tersebut memiliki hajat besar untuk dilaksanakan, maka adalah suatu kewajiban besar bagi para tetangga-tetangganya untuk saling membantu dalam hal finansial. Namun, harus diingat dan dicatat budi yang telah diberikan kepadanya layaknya hutang yang harus dibayar pada orang yang terhutangi. Selain itu karakter dari masyarakat yang mengedepankan sikap tolong menolong tersebut merupakan nilai lebih dari pencerminan masyarakat di desa ini. Bahkan tidak hanya kepada antar masyarakat, tetangga-tetangga, sekalipun ada Tamu atau orang asing yang masuk ke desa Nyabakan Barat dan bertamu kepada warga akan disambut layaknya raja. Semua yang dipunyai oleh tuan rumah akan diberikan dan dihidangkan semua.
Di samping sikap tolong menolong tersebut masyarakat juga menjunjung tinggi solidaritas antar sesama. Selain itu masyarakat juga menjunjung tinggi kepedulian sosial antar masyarakat. Hal itu dalam kenyataannya dapat dilihat dari cara masyarakat saat ada tetangga atau bahkan kerabat yang meninggal dunia semua warga di sekitarnya akan berbondong-bondong melayat ke rumah duka. Keunikan dari hal ini adalah ketika acara tahlilan yang digelar untuk mayit, masyarakat sangat peduli dan ikhlas datang untuk menghadiri tahlilan, jumlahnya sangat banyak. Hal tersebut yang membedakan dengan sosial yang terjadi di masyarakat lain.
Di sisi lain kehidupan masyarakat di desa ini sangat kompak dalam hal apapun. Seperti contoh dalam menjalankan keamanan desa dan menegakkan keadilan di desa Nyabakan Barat, masyarakat sangat kompak. Karena dari dahulu sampai sekarang keamanan desa terancam dengan adanya “maling”, termasuk didalamnya adalah maling sapi. Masyarakat dalam menegakkan hukum apabila ada maling yang tertangkap maka warga langsung menghajar massa pelaku dengan cara melempari batu dan membakarnya. Karena disinyalir para pelaku bukan orang biasa, mereka kenyataannya dalam menjalankan misinya tidak hanya dengan tangan kosong, tapi juga menggunakan jimat yang dipercayainya dapat menjadikan tubuhnya kebal terhadap apapun. Maka masyarakat dalam mengeksekusi maling dengan cara yang kejam pula. Hal tersebut baru di pasrahkan ke pihak berwenang setelah pelaku selesai di bakar. Tidakan yang dilakukan oleh masyarakat sudah menjadi tradisi di Nyabakan Barat ini dari dahulu sampai sekarang.

Hal diatas yang menjadi tradisi yang terus berjalan di lingkungan masyarakat desa Pragaan. Tradisi tersebut tak hanya dalam hajatan pernikahan, tetapi ketika seseorang ingin membangun rumah para tetangganya pun ikut berpartisipasi dalam memberikan sumbangsih tenaga atau finansial. Dan selanjutnya di kemudian hari sumbangsih tersebut menjadi kewajiban untuk dibayar. Jika dikaji dan ditela’ah kembali, prinsip tolong menolong di dalam tradisi diatas sudah berjalan dengan baik, namun di sisi lain prinsip “tolong menolong” pada hakikatnya tidak mengandung unsur ingin mendapatkan imbalan balik tetapi ia memberikan segala yang dimiliki dengan ikhlas tanpa balas budi/hutang.

Kenali Bahasa Nusantara Kita (Tingkat Tutur Bahasa Madura)



Bahasa Madura adalah bahasa yang digunakan oleh suku madura, baik yang tinggal di Pulau Madura maupun di luar pulau tersebut. Kedudukan Bahasa Madura sebagai bahasa daerah yang berfungsi sebagai lambang kebanggaan daerah, lambang identitas, dan alat penghubung didalam keluarga dan masyarakat daerah. Ujung timur pulau jawa atau dikawasan yang disebut kawasan tapal kuda yang terbentang dari Pasuruan, Probolinggo, Jember, sampai Banyuwangi, Kepulauan Masalembo, Hingga Pulau Kalimantan yang juga ditempati oleh masyarakat madura. Bahasa Madura memiliki beberapa dialek, diantaranya dialek Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep dan Kangean. Dialek yang lainnya merupakan dialek rural yang telah tercampur dengan dialek-dialek dari bahasa lainnya.
Keberagaman dialektika dan tutur urutan bahasa yang digunakan oleh masyarakat pulau madura memiliki suatu perbedaan baik dari pengucapan, intonasi, pemakaian kata serta makna dari setiap ucapan bahasa yang digunakan oleh masing-masing Kabupaten yang ada di Pulau Madura. Dari setiap pengucapan atau dialek yang di gunakan oleh setiap Kabupaten di Pulau Madura hanya Kabupaten Sumenep yang memiliki makna bahasa yang sangat halus karena sifat kekerajaan Madura di Sumenep masih di junjung tinggi keberadaannya. Bahasa Madura dalam pengucapan sehari-hari memiliki tingkat tutur bahasa yang menyesuaikan dengan status sosial masyarakatnya.Variasi tingkat tutur bahasa ini dapat kita jumpai di Kecamatan Batang-Batang Desa Nyabakan Barat. Menurut Muhni (45) sebagai salah satu warga Desa Nyabakan Barat memaparkan bahwasan masyarakat Desa Nyabakan Barat dalam sehari-harinya menggunakan tutur kata yang berbeda diantaranya bahasa enje’-iya, engghi-enten dan engghi-bhunten.
Keberagaman variasi tingkat tutur kata bahasa yang digunakan oleh masyarakat Desa Nyabakan Barat memiliki makna yang berbeda antara satu dengan yang lain sebagai berikut :
1.      Tutur Kata Enje’-Iya, lebih dominan digunakan oleh masyarakat yang memiliki kelas atau status sosial yang sama serta status tingkat dari tinggi ke bawah seperti halnya orang tua kepada anak dan memiliki tingkat keakraban yang tinggi seperti halnya teman akrab dan yang mimiliki sifat homogen. Tutur kata enje’-iya merupakan salah satu tutur kata yang digolongkan dalam tingkat pengucapan kasar akan tetapi tutur kata enje’-iya ini termasuk tutur kata yang paling cepat untuk saling kenal dan mengenal antara satu dengan yang lain.
2.      Tutur Kata engghi-enten, merupakan tutur kata yang digolongkan dalam pengucapan kategori sedang, Artinya tutur kata ini sering digunakan dalam sehari-hari oleh orang tua ke yang lebih muda/ anak atau guru kepada siswa. Kata lain tutur kata ini juga digunakan oleh kalangan masyarakat yang masih tahap belajar menggunakan bahasa halus.
3.      Tutur Kata engghi-bhunten, merupakan tutur kata yang digolongkan dalam kategori bahasa halus, artinya tutur kata ini sering diucapkan oleh kalangan status rendah ke tingkat yang tinggi seperti halnya anak kepada orang tua, murid/ santri kepada guru/ kiyai dan lain sebagainya. tutur kata engghi-bhunten merupakan salah tutur bahasa yang dibilang sebagai bahasa kramat atas kesucian makna dari setiap kata-kata yang diucapkan.

Dari penjelasan diatas setiap pembagian tingkat tutur kata bahasa yang sering digunakan oleh masyarakat Desa Nyabakan Barat merupakan sebagai bukti bahwasannya Pulau Madura kaya akan bahasa, kaya akan makna kata serta luas dengan wawasan sebagai jembatan untuk menghubungkan antar stratifikasi sosial satu dengan yang lain.