Selasa, 08 Agustus 2017

Keadaan Sosial Masyarakat Desa Nyabakan Barat



Kebudayaan lahir dari kebiasaan yang dilakukan oleh nenek moyang kita sebelumnya. Bahkan ratusan tahun yang lalu kebiasaan tersebut sudah menjadi hal yang patut dan lumrah untuk terus dilestarikan. Sehingga tradisi terus berjalan dan melekat di dalam masyarakat yang memiliki kefanatikan terhadap adatnya. Jika tradisi tersebut tidak diindahkan oleh segelitir masyarakat yang hidup di dalamya, hal itu akan menjadi suatu hal yang salah dalam perilakunya. Kekentalan dan kefanatikan adatlah yang menjadi salah satu corak kehidupan masyarakat pedesaan. Dengan karasteristik mereka yang cenderung hidup berdampingan, yang memiliki perbedaan yang jauh dengan kehidupan masyarakat kota.
Masyarakat adalah setiap kelompok manusia yang telah cukup lama hidup dan bekerjasama, sehingga mereka ini dapat mengorganisasikan dirinya, berpikir tentang dirinya dalam satu kesatuan sosial dengan batas-batas tersebut. Hal itu memiliki karasteristik kehidupan yang berbeda, bila diperhatikan dalam kehidupan kesehariannya. Salah satu karakteristik yang ada di Desa Nyabaan Barat ini merupakan masyarakat pedesaan yang cenderung hidup bersama-sama dalam keseharian mereka, hal ini dapat dikatakan bahwa mereka memiliki kehidupan sosial yang baik. Terbuka kepada para tetangga untuk saling bercengkrama layaknya saudara sendiri, bahkan tolong menolong menjadi sifat yang telah melekat didalam diri mereka.
Sebagai contoh kehidupan sosial yang akan penulis angkat pada artikel ini adalah mengenai sikap tolong menolong yang dilakukan oleh masyarakatnya. Seperti halnya ketika salah satu keluarga yang ada pada bagian masyarakat desa tersebut memiliki hajat besar untuk dilaksanakan, maka adalah suatu kewajiban besar bagi para tetangga-tetangganya untuk saling membantu dalam hal finansial. Namun, harus diingat dan dicatat budi yang telah diberikan kepadanya layaknya hutang yang harus dibayar pada orang yang terhutangi. Selain itu karakter dari masyarakat yang mengedepankan sikap tolong menolong tersebut merupakan nilai lebih dari pencerminan masyarakat di desa ini. Bahkan tidak hanya kepada antar masyarakat, tetangga-tetangga, sekalipun ada Tamu atau orang asing yang masuk ke desa Nyabakan Barat dan bertamu kepada warga akan disambut layaknya raja. Semua yang dipunyai oleh tuan rumah akan diberikan dan dihidangkan semua.
Di samping sikap tolong menolong tersebut masyarakat juga menjunjung tinggi solidaritas antar sesama. Selain itu masyarakat juga menjunjung tinggi kepedulian sosial antar masyarakat. Hal itu dalam kenyataannya dapat dilihat dari cara masyarakat saat ada tetangga atau bahkan kerabat yang meninggal dunia semua warga di sekitarnya akan berbondong-bondong melayat ke rumah duka. Keunikan dari hal ini adalah ketika acara tahlilan yang digelar untuk mayit, masyarakat sangat peduli dan ikhlas datang untuk menghadiri tahlilan, jumlahnya sangat banyak. Hal tersebut yang membedakan dengan sosial yang terjadi di masyarakat lain.
Di sisi lain kehidupan masyarakat di desa ini sangat kompak dalam hal apapun. Seperti contoh dalam menjalankan keamanan desa dan menegakkan keadilan di desa Nyabakan Barat, masyarakat sangat kompak. Karena dari dahulu sampai sekarang keamanan desa terancam dengan adanya “maling”, termasuk didalamnya adalah maling sapi. Masyarakat dalam menegakkan hukum apabila ada maling yang tertangkap maka warga langsung menghajar massa pelaku dengan cara melempari batu dan membakarnya. Karena disinyalir para pelaku bukan orang biasa, mereka kenyataannya dalam menjalankan misinya tidak hanya dengan tangan kosong, tapi juga menggunakan jimat yang dipercayainya dapat menjadikan tubuhnya kebal terhadap apapun. Maka masyarakat dalam mengeksekusi maling dengan cara yang kejam pula. Hal tersebut baru di pasrahkan ke pihak berwenang setelah pelaku selesai di bakar. Tidakan yang dilakukan oleh masyarakat sudah menjadi tradisi di Nyabakan Barat ini dari dahulu sampai sekarang.

Hal diatas yang menjadi tradisi yang terus berjalan di lingkungan masyarakat desa Pragaan. Tradisi tersebut tak hanya dalam hajatan pernikahan, tetapi ketika seseorang ingin membangun rumah para tetangganya pun ikut berpartisipasi dalam memberikan sumbangsih tenaga atau finansial. Dan selanjutnya di kemudian hari sumbangsih tersebut menjadi kewajiban untuk dibayar. Jika dikaji dan ditela’ah kembali, prinsip tolong menolong di dalam tradisi diatas sudah berjalan dengan baik, namun di sisi lain prinsip “tolong menolong” pada hakikatnya tidak mengandung unsur ingin mendapatkan imbalan balik tetapi ia memberikan segala yang dimiliki dengan ikhlas tanpa balas budi/hutang.

0 komentar: